Cahaya senja mulai sedikit
menghilang dari ufuk barat, perasaan sedikit cemas mulai bergelantungan dalam
angan. Tapi aku tetap menggerakkan kakiku untuk melangkah hingga ujung gang
guna menunggu angkutan umum, meski hati kecilku berkata bahwa tak mungkin ada
angkutan umum yang masih berkeliaran pukul 17.30 begini. Ah, optimis sajalah,
pasti masih ada kok, ujarku dalam hati. Beberapa langkah setelah kuberjalan
akhirnya sampai juga di ujung gang. Lelah sekali bila harus pulang sesore ini
setiap hari, tapi mau bagaimana lagi? Kalau mau kost, aku belum bisa untuk
berada jauh dari orang tua barang satu minggu saja. Lagipula jarak rumah dan
sekolahku tidak begitu jauh, menurutku. Kalau dihitung-hitung sekitar 14 km.
Aku duduk di emperan toko bangunan yang sudah tutup, masih banyak kendaraan
yang berlalu lalang memang, tapi penglihatanku tidak menangkap adanya
tanda-tanda angkutan umum yang akan lewat sebentar lagi. Sambil menunggu,
kuraih dompet lucu berwarna ungu yang kutaruh di dalam saku rok abu-abuku.
Kuhitung uang sisa jajanku hari ini, Alhamdulillah masih ada lima belas ribu.
Masih sangat cukup untuk ongkos pulang hari ini dan sisanya lagi akan kutabung
guna membeli kado ulang tahun ibuku. Kuhitung pula uang sisa jajan yang
kemarin-kemarin dengan teliti. Setelah semua sudah kuhitung, kujumlahkan dengan
uang sisa jajanku hari ini. Alhamdulillah! Total semuanya adalah dua ratus
ribu, aku jadi bingung mau kubelikan apa ibuku nanti saat hari ulang tahunnya
tiba.
“Kalirejo! Kalirejo! Ayo, buruan
naik, Mbak!” sahut seorang sopir sambil memberhentikan angkutan umumnya yang
bernomor pintu 15 itu di sisi kiri jalan. Aku segera bangkit dan berlari menuju
angkutan umum itu. Tak lupa kumasukkan lagi dompetku ke dalam saku rok. Saat
hendak masuk, ternyata angkutan umum itu sudah penuh sesak oleh penumpang.
“Waduh, udah penuh banget, Om. Saya
cari angkot yang lain aja deh.” Ujarku dengan nada sedikit kecewa.
“Di belakang udah nggak ada angkot
Kalirejo lagi, Mbak!” Sopir itu kelihatan sedikit emosi karena aku tidak
bergegas masuk.
“Duduk sini aja, Mbak. Biar saya
yang gantung di pintu.” Sahut salah seorang penumpang yang tengah duduk di
dekat pintu, dengan perasaan lega tiada tara, aku langsung masuk dan duduk di
tempat penumpang yang telah rela berkorban demiku tadi. Penumpang itu
berpakaian agak dekil, setelah kuperhatikan ternyata ia masih sangat kecil.
Mungkin kelas enam SD. Ah, anak yang sungguh baik hati.
“Baru pulang sekolah nih, Mbak?”
Seorang wanita bertubuh agak tambun yang duduk di samping kananku mulai
bersuara.
“Iya, Bu. Tadi ada kegiatan ekstra
kulikuler di sekolah.” Jawabku sambil mengulum senyum.
“Anak yang nawarin Mbak buat duduk
itu anak saya.”
Aku
tertegun sejenak. Perasaan tak enak hati jelas sekali kurasakan. Namun nampaknya,
Ibu itu tidak mempermasalahkannya.
“Waduh, saya jadi nggak enak nih,
Bu. Maaf ya?”
“Nggak apa-apa kok. Mbaknya turun di
mana?”
“Saya turun di Kalirejo.”
“Wah, jauh banget? Kenapa nggak kost
aja, Mbak?” wajah wanita paruh baya itu sedikit terperangah mendengar
jawabanku, sedangkan aku hanya tersenyum menanggapi pertanyaan yang
dilontarkannya. Pertanyaan yang sudah sangat sering orang-orang ajukan padaku.
Lama-kelamaan, rasa kantuk yang luar biasa mulai menggerayangi kedua mataku.
Memaksanya untuk terpejam. Akhirnya, rasa kantuk ini berhasil menguasaiku dan
membuatku terlelap walau sambil terangguk-angguk.
“Bangun, Mbak! Udah sampai pasar
Kalirejo nih. Saya mau cepat-cepat pulang.” Suara parau sang supir angkutan
umum membangunkanku seketika. Membuatku terjaga.
“Hah, udah sampai? Jam berapa
sekarang, Om?” sahutku sambil turun dari angkutan umum itu dengan
tergopoh-gopoh.
“Jam setengah tujuh. Oh, iya,
Mbaknya nggak usah bayar.”
Aku
diam sejenak, berusaha mencerna kata-kata yang keluar dari mulut supir ini
dengan baik. Apa mungkin aku masih tidur?
“Loh, kok nggak bayar?” ujarku
dengan penuh tanda tanya.
“Udah dibayarin sama ibu-ibu yang
bawa anak kecil tadi, Mbak. Yang anaknya agak dekil itu. Ya udah deh, saya mau
pulang dulu.”
Aku hanya bisa terdiam sambil menatap angkutan umum
yang perlahan menghilang di ujung jalan. Aku tak habis pikir, ternyata masih
ada orang yang berhati mulia seperti ibu dan anaknya tadi. Semoga Allah
membalas kebaikan mereka, gumamku dalam hati. Aku pun mulai berjalan untuk pulang
ke rumah. Kios-kios yang menjual makanan di sepanjang sisi jalan mulai ramai
dipadati oleh orang-orang yang datang dengan perut lapar. Ngomong-ngomong, aku
juga jadi lapar. Perutku seolah meronta-ronta ketika hidungku menangkap bau
lezat yang bersumber dari warung sate Madura di seberang jalan. Tanpa basa basi
lagi, aku segera menyebrang jalan dan memesan satu porsi sate ayam untuk
memadamkan rasa laparku. Sekitar sepuluh menit kemudian, pesananku datang.
Akupun langsung menyantapnya hingga tandas. Ah, rasanya kenyang sekali sampai
perutku terasa sesak.
Aku tersentak seketika saat kudapati saku rok
abu-abuku kosong tanpa dompet yang bersemayam di dalamnya. Astagfirullah! Di
mana dompetku? Lantas harus dengan apa aku membayar satu porsi sate ayam yang telah
lenyap kulahap ini? Seluruh isi tas sudah kuobrak-abrik, semua saku yang ada di
seragam putih abu-abuku juga sudah kugerayangi satu persatu. Lalu di mana
dompetku?! Sudut mataku sudah sedikit berair, aku tak kuasa menahan ini semua.
Setelah mati-matian meminta maaf kepada abang
penjual sate, dengan tertatih aku melanjutkan perjalanan untuk pulang. Lemas
sekali rasanya. Kenapa hal menyedihkan sekaligus memalukan seperti ini bisa
terjadi padaku? Namanya saja cobaan, lebih baik sekarang pulang dan mengambil
uang untuk membayar sate tadi. Saat berjalan sampai di pertigaan jalan, kedua kakiku
seakan membeku ketika kudapati seorang ibu dan anaknya yang sedang makan dengan
sangat lahap di warung ayam bakar seberang jalan. Ternyata, itu adalah ibu yang
tadi!
Kuperhatikan terus gerak-gerik mereka, sepertinya
mereka sudah hampir selesai makan dan hendak membayar pada pelayan. Betapa
terkejutnya aku saat melihat dompet unguku berada dalam genggaman tangan ibu
tambun itu. Astagfirullah, aku sudah tak kuat menahan tangis. Ini benar-benar
di luar kuasaku. Sisa uang jajan yang telah susah payah kukumpulkan malah
dicopet orang. Ingin rasanya kuhampiri ibu itu dan memakinya habis-habisan.
Namun, entah ada alasan apa yang membuatku tak kuat untuk melangkah menghampirinya
ketika kudengar si ibu itu mengucapkan “selamat ulang tahun” pada anak
laki-lakinya yang berpakaian dekil. Ya sudah lah, kuikhlaskan saja uang dan
dompetku, biar jadi pelajaran buatku agar lebih rajin lagi untuk bersedekah dan
berbagi kepada orang-orang yang membutuhkan.
0 komentar:
Posting Komentar