Kamis, 06 Oktober 2016

Peristiwa Angkot 15


            Cahaya senja mulai sedikit menghilang dari ufuk barat, perasaan sedikit cemas mulai bergelantungan dalam angan. Tapi aku tetap menggerakkan kakiku untuk melangkah hingga ujung gang guna menunggu angkutan umum, meski hati kecilku berkata bahwa tak mungkin ada angkutan umum yang masih berkeliaran pukul 17.30 begini. Ah, optimis sajalah, pasti masih ada kok, ujarku dalam hati. Beberapa langkah setelah kuberjalan akhirnya sampai juga di ujung gang. Lelah sekali bila harus pulang sesore ini setiap hari, tapi mau bagaimana lagi? Kalau mau kost, aku belum bisa untuk berada jauh dari orang tua barang satu minggu saja. Lagipula jarak rumah dan sekolahku tidak begitu jauh, menurutku. Kalau dihitung-hitung sekitar 14 km. Aku duduk di emperan toko bangunan yang sudah tutup, masih banyak kendaraan yang berlalu lalang memang, tapi penglihatanku tidak menangkap adanya tanda-tanda angkutan umum yang akan lewat sebentar lagi. Sambil menunggu, kuraih dompet lucu berwarna ungu yang kutaruh di dalam saku rok abu-abuku. Kuhitung uang sisa jajanku hari ini, Alhamdulillah masih ada lima belas ribu. Masih sangat cukup untuk ongkos pulang hari ini dan sisanya lagi akan kutabung guna membeli kado ulang tahun ibuku. Kuhitung pula uang sisa jajan yang kemarin-kemarin dengan teliti. Setelah semua sudah kuhitung, kujumlahkan dengan uang sisa jajanku hari ini. Alhamdulillah! Total semuanya adalah dua ratus ribu, aku jadi bingung mau kubelikan apa ibuku nanti saat hari ulang tahunnya tiba.
            “Kalirejo! Kalirejo! Ayo, buruan naik, Mbak!” sahut seorang sopir sambil memberhentikan angkutan umumnya yang bernomor pintu 15 itu di sisi kiri jalan. Aku segera bangkit dan berlari menuju angkutan umum itu. Tak lupa kumasukkan lagi dompetku ke dalam saku rok. Saat hendak masuk, ternyata angkutan umum itu sudah penuh sesak oleh penumpang.
            “Waduh, udah penuh banget, Om. Saya cari angkot yang lain aja deh.” Ujarku dengan nada sedikit kecewa.
            “Di belakang udah nggak ada angkot Kalirejo lagi, Mbak!” Sopir itu kelihatan sedikit emosi karena aku tidak bergegas masuk.
            “Duduk sini aja, Mbak. Biar saya yang gantung di pintu.” Sahut salah seorang penumpang yang tengah duduk di dekat pintu, dengan perasaan lega tiada tara, aku langsung masuk dan duduk di tempat penumpang yang telah rela berkorban demiku tadi. Penumpang itu berpakaian agak dekil, setelah kuperhatikan ternyata ia masih sangat kecil. Mungkin kelas enam SD. Ah, anak yang sungguh baik hati.
            “Baru pulang sekolah nih, Mbak?” Seorang wanita bertubuh agak tambun yang duduk di samping kananku mulai bersuara.
            “Iya, Bu. Tadi ada kegiatan ekstra kulikuler di sekolah.” Jawabku sambil mengulum senyum.
            “Anak yang nawarin Mbak buat duduk itu anak saya.”
Aku tertegun sejenak. Perasaan tak enak hati jelas sekali kurasakan. Namun nampaknya, Ibu itu tidak mempermasalahkannya.
            “Waduh, saya jadi nggak enak nih, Bu. Maaf ya?”
            “Nggak apa-apa kok. Mbaknya turun di mana?”
            “Saya turun di Kalirejo.”
            “Wah, jauh banget? Kenapa nggak kost aja, Mbak?” wajah wanita paruh baya itu sedikit terperangah mendengar jawabanku, sedangkan aku hanya tersenyum menanggapi pertanyaan yang dilontarkannya. Pertanyaan yang sudah sangat sering orang-orang ajukan padaku. Lama-kelamaan, rasa kantuk yang luar biasa mulai menggerayangi kedua mataku. Memaksanya untuk terpejam. Akhirnya, rasa kantuk ini berhasil menguasaiku dan membuatku terlelap walau sambil terangguk-angguk.
            “Bangun, Mbak! Udah sampai pasar Kalirejo nih. Saya mau cepat-cepat pulang.” Suara parau sang supir angkutan umum membangunkanku seketika. Membuatku terjaga.
            “Hah, udah sampai? Jam berapa sekarang, Om?” sahutku sambil turun dari angkutan umum itu dengan tergopoh-gopoh.
            “Jam setengah tujuh. Oh, iya, Mbaknya nggak usah bayar.”
Aku diam sejenak, berusaha mencerna kata-kata yang keluar dari mulut supir ini dengan baik. Apa mungkin aku masih tidur?
            “Loh, kok nggak bayar?” ujarku dengan penuh tanda tanya.
            “Udah dibayarin sama ibu-ibu yang bawa anak kecil tadi, Mbak. Yang anaknya agak dekil itu. Ya udah deh, saya mau pulang dulu.”
Aku hanya bisa terdiam sambil menatap angkutan umum yang perlahan menghilang di ujung jalan. Aku tak habis pikir, ternyata masih ada orang yang berhati mulia seperti ibu dan anaknya tadi. Semoga Allah membalas kebaikan mereka, gumamku dalam hati. Aku pun mulai berjalan untuk pulang ke rumah. Kios-kios yang menjual makanan di sepanjang sisi jalan mulai ramai dipadati oleh orang-orang yang datang dengan perut lapar. Ngomong-ngomong, aku juga jadi lapar. Perutku seolah meronta-ronta ketika hidungku menangkap bau lezat yang bersumber dari warung sate Madura di seberang jalan. Tanpa basa basi lagi, aku segera menyebrang jalan dan memesan satu porsi sate ayam untuk memadamkan rasa laparku. Sekitar sepuluh menit kemudian, pesananku datang. Akupun langsung menyantapnya hingga tandas. Ah, rasanya kenyang sekali sampai perutku terasa sesak.
Aku tersentak seketika saat kudapati saku rok abu-abuku kosong tanpa dompet yang bersemayam di dalamnya. Astagfirullah! Di mana dompetku? Lantas harus dengan apa aku membayar satu porsi sate ayam yang telah lenyap kulahap ini? Seluruh isi tas sudah kuobrak-abrik, semua saku yang ada di seragam putih abu-abuku juga sudah kugerayangi satu persatu. Lalu di mana dompetku?! Sudut mataku sudah sedikit berair, aku tak kuasa menahan ini semua.
Setelah mati-matian meminta maaf kepada abang penjual sate, dengan tertatih aku melanjutkan perjalanan untuk pulang. Lemas sekali rasanya. Kenapa hal menyedihkan sekaligus memalukan seperti ini bisa terjadi padaku? Namanya saja cobaan, lebih baik sekarang pulang dan mengambil uang untuk membayar sate tadi. Saat berjalan sampai di pertigaan jalan, kedua kakiku seakan membeku ketika kudapati seorang ibu dan anaknya yang sedang makan dengan sangat lahap di warung ayam bakar seberang jalan. Ternyata, itu adalah ibu yang tadi!
Kuperhatikan terus gerak-gerik mereka, sepertinya mereka sudah hampir selesai makan dan hendak membayar pada pelayan. Betapa terkejutnya aku saat melihat dompet unguku berada dalam genggaman tangan ibu tambun itu. Astagfirullah, aku sudah tak kuat menahan tangis. Ini benar-benar di luar kuasaku. Sisa uang jajan yang telah susah payah kukumpulkan malah dicopet orang. Ingin rasanya kuhampiri ibu itu dan memakinya habis-habisan. Namun, entah ada alasan apa yang membuatku tak kuat untuk melangkah menghampirinya ketika kudengar si ibu itu mengucapkan “selamat ulang tahun” pada anak laki-lakinya yang berpakaian dekil. Ya sudah lah, kuikhlaskan saja uang dan dompetku, biar jadi pelajaran buatku agar lebih rajin lagi untuk bersedekah dan berbagi kepada orang-orang yang membutuhkan.





0 komentar:

Posting Komentar